KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan hidayahnya
sehingga dapat menyelesaikan makalah penulis
yang berjudul “ Pengaruh Iklim Terhadap Peternakan Ayam “. Pada makalah ini penulis
banyak mengambil dari berbagai sumber dan refrensi dan pengarahan dari berbagai
pihak .oleh sebab itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
sebesar-sebesarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa
makalah ini sangat jauh dari sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata penulis mengucapkan
terima kasih dan semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semua pihak yang
membaca…
Taluk Kuantan, Desember 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar.................................................................................................................... i
Daftar
Isi............................................................................................................................. ii
BAB
I PENDAHULUAN.................................................................................................... 1
1.1
Latar Belakang......................................................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah.................................................................................................... 2
1.3
Tujuan Makalah....................................................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN..................................................................................................... 3
2.1
Pemanasan Global Secara Umum............................................................................ 3........................................................................................................................................
2.2
Pengaruh Iklm Global Terhadap
Peternakan........................................................... 5
2.2
Pengaruh Iklm Global Terhadap
Peternakan ayam................................................. 6
BAB
III PENUTUP.............................................................................................................. 9
3.1 Kesimpulan............................................................................................................. 9
3.2 Saran........................................................................................................................ .................................................................................................................................... 10
DAFTAR
PUSTAKA.......................................................................................................... ......................................................................................................................................... 11
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perubahan
iklim global merupakan salah satu tantangan bagi manusia sebagai penghuni bumi.
Manusia dapat memberikan pengaruh negatif atau positif terhadap
kelestarian alam, tergantung pada aktivitasnya. Hal ini setara dengan
pernyataan Adhi (2010) yang menyatakan bahwa meningkatnya gas rumah kaca
disebabkan oleh kegiatan manusia dalam memproduksi gas rumah kaca (GRK) lebih
besar dari kemampuan lingkungan dalam memperbaiki dirinya. Secara alami, GRK
dapat didaur ulang oleh lingkungan sehingga jumlahnya seimbang. Oleh adanya
kegiatan manusia,GRK yang dihasilkan melebihi kemampuan lingkungan untuk
mendaur ulang sehingga GRK terkumpul di atmosfir. Peningkatan emisi gas CO2,
CH4 dan N2O di atmosfir menyebabkan berbagai masalah antara lain terjadinya
perubahan sifat iklim yang berdampak pada perubahan cuaca.
Tahun
2006, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan laporan berjudul Livestock’s
Long Shadow yang disusul pada tahun 2008 dengan judulnya Kick the
Habit. Pada kedua laporan masing-masing setebal 400-an dan 200-an halaman
tersebut dikatakan bahwa industri peternakan menyumbang 18% GRK berupa
karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitro oksida (N2O), jauh lebih besar
dari sumbangan gas rumah kaca (karbondioksida) dari seluruh moda transportasi
di dunia yang hanya 13,5%. Selain itu, perubahan tanah yang berhubungan dengan
peternakan menambah 2,4 triliun ton CO2 ke udara setiap tahun. Sementara itu,
penggunaan lahan dunia sangat tidak proporsional yaitu 15 juta km2 lahan
pertanian untuk pangan sedangkan 30 juta km2 lahan untuk penggembalaan ternak
(Fao, 2011).
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
defenisi dari iklim global secara umum?
2.
Bagaimanakan
pengaruh iklim global terhadap dunia peternakan?
3.
Apa
pengaruh iklim terhadap ayam?
1.3 Tujuan
Makalah
1.
Untuk
mengetahui bagaimana defenisi dari iklim global secara umum?
2.
Untuk
mengetahui bagaimanakan pengaruh iklim global terhadap dunia peternakan?
3.
Untuk
mengetahui apa pengaruh iklim terhadap ayam?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pemanasan
Global Secara Umum
Pemanasan
global adalah proses naiknya suhu rata-rata atmosfer, laut serta daratan bumi.
Meningkatnya suhu tersebut menyebabkan bumi yang kita diami ini terasa lebih
panas, dan saat siang hari kita merasakan panas yang berlebihan. Kenaikan suhu
bumi ini dimungkinkan diakibatkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca
akibat dari ulah dan aktivitas manusia itu sendiri. Dengan adanya global
warming banyak sekali kerusakan yang dapat ditimbulkan, bukan hanya satu namun
bisa mencapai seluruh struktur yang berada di bumi itu sendiri.
Selama
abad terakhir, temperatur dunia telah meningkat sebesar 0,7 ° C. Variasi hujan
turun dalam waktu dan ruang telah mengalami perubahan yang luas dan tingkat air
laut naik sekitar 25 cm. Kenaikan suhu telah mempengaruhi sistem perkembangan
makhluk hidup di bumi. Perubahan ini telah diamati dalam distribusi spesies,
ukuran populasi, musim reproduksi dan migrasi hewan dan parasit kejadian yang
lebih tinggi dan penyakit dalam sistem hutan (Watson, 2008). Beberapa contoh
dapat diberikan, antara lain suhu rata-rata, sebagai akibat dari pemanasan
global, diperkirakan akan meningkat sebesar 2,1°C in 2050 dengan penurunan
tajam dari curah hujan dan peningkatan variabilitas iklim (GTZ, 2007). Wilayah
selatan akan terkena kenaikan tertinggi suhu rata-rata dan akan menurun pada
musim kemarau. Ketersediaan air akan menurun sebesar 28 % pada tahun 2030 hasil
pertanian dihasilkan oleh lahan kering dan akan menurun sebesar 50 % pada tahun
2050. Daging sapi, produksi kambing dan domba akan sangat dipengaruhi terutama
di pusat dan selatan dan kehilangan 80% dapat direkam selama tahun-tahun
kekeringan.
1.
Teori Karbondioksida – Teori Efek Rumah Kaca
Karbondioksida merupakan salah satu
gas yang menyusun atmosfer. Gas ini memiliki keistimewaan sifatnya sebagai
penyaring energi radiasi, baik yang datang dari bumi maupun dari matahari.
Energi radiasi dari kedua sumber tersebut dipancarkan dan menjalar dalam wujud
gelombang yang tersusun dari berbagai panjang gelombang.
Kehadiran gas-gas dari atmosfer
berperan penting sebagai penyaring terhadap beberbagai panjang gelombang
ad:energi radiasi; sehingga energi radiasi yang paling banyak masuk dan sampai
di bumi adalah energi radiasi dengan panjang gelombang 0,3 s.d 0,7
yang disebut sebagai gelombang sinar tampak. Energi radiasi dari bumi memiliki
panjang gelombang >0,7 u. Energi dari matahari, selanjutnya, dikenal sebagai
energi radiasi gelombang pendek, sedangkan yang datang dari bumi disebut
sabagai energi radiasi gelombang panjang.
Gas CO2 memiliki sifat tembus oleh
energi radiasi gelombang pendek asal matahari, akan tetapi menyerap energi
radiasi gelombang panjang yang berasal dari bumi, dan di saat lain
memancarkan kembali energi yang diserap tersebut ke arah bumi;fenomena ini
dikenal sebagai “green house effect” atau efek rumah kaca. Sebelum
revolusi industri, konsentrasi CO2 di atmosfer diperkirakan 280 ppmv ( part
per million volume ); hasil pengukuran pada tahun 1994, konsentrasi
tersebut telah mencapai 360 ppmv ( peningkatan 1,3 kali ); konsentrasi ini akan
terus meningkat mencapai 500 ppmv pada tahun 2050, dan 700 ppmv pada tahun 2100
( IPCC,2001,dalam Rahardja, D.P. 2010.).
Sementara kehadiran CO2 telah banyak
menyita perhatian, terdapat gas-gas pengisi atmosfer lain dengan konsentrasi yang
lebih kecil tetapi memiliki potensi yang lebih tinggi sebagai gas rumah kaca,
yaitu gas methan (CH4), nitrogen oksida (NO2), cholorofluorocarbon-11 dan
12 (CFC-11 DAN CFC-12. Publikasi IPCC (1990 dan 1992) pada tabel 1.1
mengungkapkan potensi gas-gas rumah kaca tersebut. Sebagai konsekuensi dari
meningkatnya gas-gas efek rumah kaca tersebut di atmosfer adalah peningkatan
suhu global rata-rata, dan oleh karenanya fenomena ini dikanel pula
sebagai “global warming”. Publikasi
(moss,dkk,2000,dalam Rahardja, D.P. 2010.) memperkirakan bahwa sampai dengan
tahun 2030, suhu global akan meningkat 0,5- 2,5°C.
Peningkatan konsentrasi gas-gas efek
rumah kaca tersebut sangat berkaitan dengan berbagai aktivitas yang
dilakukan oleh manusia. Perihal yang menarik adalah bahwa aktivitas di bidang
pertanian- termasuk peternakan memberikan kontribusi yang besar.
2. Wilayah
Tropis
Wilayah
tropis adalah wilayah di antara 23,5°LU sampai 23,5°LS. Tetapi, batas daerah
tropis bukan berupa garis lurus. Indonesia merupakan salah satu negara
beriklim tropis. Selain itu wilayah-wilayah yang lainnya di belahan bumi
barat, negara-negara yang termasuk negara dengan iklim tropis adalah
Meksiko, Amerika tengah, dan bagian atas amerika selatan, termasuk Kolombia,
Ekuador, Peru, Bolivia, Venezuela, Guyana, utara Chile, Argentina, Paraguay,
Dan Brasil. Salah satu ciri iklim tropis adalah terdapat dua musim utama
sepanjang tahun, yakni musim hujan dan musim kemarau. Matahari bersinar
sepanjang tahunnya. Oleh karena itu, intensitas matahari cukup besar di daerah
ini. Wilayah-wilayah di atas merupakan wilayah yang akan berdampak terparah
apabila pemanasan global terjadi.
2.2 Dampak Pemanasan
Global di Sektor Peternakan
Pengaruh pemanasan global terhadap
produktivitas ternak dapat berdampak langsung dan tidak langsung. Pengaruh
langsung meliputi : perubahan suhu tubuh yang mengakibatkan perubahan suhu
darah yang memasuki daerah hipotalamus; dan juga perubahan suhu tubuh
menyebabkan perubahan aktivitas metabolisme, produksi susu menurun dan timbulnya
beberapa penyakit. Sedangkan pengaruh tidak langsung adalah perubahan nafsu
makan atau konsumsi pakan, sehingga ketersediaan zat-zat pakan organik dan
anorganik untuk produktivitas ternak berkurang dan proses fisiologi dalam
tubuh.
2.3 Pengaruh Iklim Global Pada Ayam
Produktivitas ayam yang optimum
dapat dicapai pada kondisi thermoneutral zone, yaitu suhu lingkungan yang nyaman. Suhu lingkungan yang nyaman
bagi ayam buras belum diketahui, namun diperkirakan berada pada kisaran suhu 18 hingga 25 °C. Ayam pada suhu
lingkungan yang tinggi (25-31 °C) menunjukkan penurunan produktivitas, yaitu
produksi dan berat telur yang rendah, serta
pertumbuhan yang lambat . Penurunan produksi telur pada suhu lingkungan tinggi
dapat mencapai 25% bila dibandingkan
dengan yang dipelihara pada suhu nyaman . Berat badan ayam buras umur 8 minggu
juga berbeda, yaitu 257 g/ekor pada suhu
tinggi, sedangkan pada lingkungan nyaman dapat mencapai berat 427 g/ekor.
Penurunan produktivitas tersebut terutama
disebabkan oleh penurunan jumlah konsumsi pakan, maupun perubahan kondisi
fisiologis ayam.
Upaya meningkatkan produktivitas
ayam di daerah suhu lingkungan tinggi antara lain melalui seleksi dan
perkawinan silang, manipulasi lingkungan mikro,
perbaikan tatalaksana pemeliharaan dan manipulasi pakan. Manipulasi kualitas
pakan adalah metode yang paling murah,
mudah dilakukan dan umumnya bertujuan meningkatkan jumlah konsumsi zat gizi .
Metode ini berupa penambahan vitamin C,
mineral phosphor atau pemberian sodium bikarbonat dalam ransum . Disarankan
jumlah penambahan vitamin C sebanyak
200-600 mg/kg ransum pada fase produksi telur dan sebanyak 100-200 mg/kg ransum
pada fase pertumbuhan.
Dalam kisaran suhu lingkungan
optimum, ayam dapat menggunakan pakan lebih
efisien, karena ayam tidak
mengeluarkan energi untuk mengatasi suhu lingkungan yang tidak normal. Pada suhu lingkunganyang lebih - tinggi, ayam
berusaha menjaga suhu tubuhnya
dengan cara menyeimbangkan produksi panas dengan hilangnya panas, menggunakan bantuanalat-alat fisik dan mengubah-ubah sifat
insulatif bulu .
Untuk mengatasi pengaruh iklim yang tidak dapat
dikontrol, maka salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan
manipulasi iklim mikro melalui rasionalisasi perkandangan. Menurut Austic dan
Nesheim (1990), dalam pembuatannya kandang harus ditinjau dari tiga sudut
pandang:
1. Sebagai problem biologi
2. Sebagai problem teknik dan
3. Sebagai problem ekonomi. Artinya,
Peternak harus mengetahui kondisi suhu,
kelembaban dan pergerakan udara yang ideal untuk produksi telur dan laju
pertumbuhan yang maksimum. Demikian juga konstruksi kandang yang baik agar
kondisi di atas dapat dikontrol pada suatu flock dengan jumlah ayam tertentu,
batas maksimum atau minimum masing-masing faktor tanpa mempengaruhi produksi
secara berarti, serta biaya konstruksi kandang haruslah dalam batas kewajaran
(Austic dan Nesheim, 1990).
Dari segi konstruksi, menurut Abbas (1992)
manipulasi perbaikan kandang haruslah memperhatikan lokasi, lebar kandang,
bahan dan sistem atap yang digunakan, tipe dan susunan cage, penyinaran dan
ventilasi dalam kandang. Lebar kandang hendaknya 4-8 m dengan bagian samping
yang terbuka dan panjang dapat disesuaikan. Pembatasan lebar 4-8 m dimaksudkan
agar aerasi dan pertukaran udara dalam kandang menjadi lancar. Kandang yang
terlalu lebar akan menyebabkan pertukaran O2, CO2 dan amoniak (yang tidak boleh
lebih dari 25 ppm) akan menjadi sukar.
Banyak penyusunan cage dalam kandang tidak boleh
melebihi tiga tingkat, karena menyebabkan aerasi akan menjadi jelek. Alasan
efisiensi penggunaan ruang kandang tidaklah tepat (Abbas, 1992).Sistem
ventilasi harus sangat diperhatikan sekali. Hal ini penting, agar aliran udara
bertambah selama periode panas. Dengan bertambah cepatnya udara dalam kandang,
suhu dalam kandang menjadi berkurang. Jika pergerakan aliran udara sedikit (60
feet/menit atau lebih), suhu kandang adalah 90ºF dan ayam akan merasakan panas
sebesar itu pula. Tetapi bila aliran udara 300 feet/menit, maka ayam akan
merasakan panas hanya sebesar 67ºF. Sebaiknya fan ventilasi disediakan dalam
kandang (Bokhari, 1993).
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah atap
kandang hendaklah dibuat dengan sistem monitor, sebab panas dalam kandang dapat
keluar melalui monitornya. Sehubungan dengan daya refleksi, bahan kandang
hendaklah menggunakan bahan-bahan yang mampu memantulkan panas sebanyak
mungkin. Untuk itu cat/pengapuran putih serta digunakannya atap asbes, genteng
atau rumbia lebih baik dari pada atap seng yang sekarang ini banyak
digunakan oleh peternak (Abbas, 1992)
Selain manipulasi iklim mikro, dapat juga
dilakukan perbaikan manajemen pada saat lonjakan suhu tinggi.
Penyesuaian dan perbaikan manajemen pada suhu lingkungan tinggi juga perlu
mendapat perhatian, terutama menyangkut program vaksinasi , debeaking, litter,
pemungutan telur, perbaikan kualitas air minum dengan selalu menyediakan air
yang segar, pembuangan kotoran agar kadar amoniak tidak naik dan penambahan Ca
dan P ekstra.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan
pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pemanasan global
berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap produktivitas ternak. Pengaruh
langsung meliputi; menurunnya produksi susu, timbulnya sumber-sumber penyakit,
dan perubahan aktivitas metabolisme pada ternak. Sedangkan pengaruh tidak
langsung meliputi perubahan nafsu makan atau konsumsi pakan sehingga berakibat
kepada produktivitas ternak berkurang.
Dalam kisaran suhu lingkungan
optimum, ayam dapat menggunakan pakan lebih efisien,
karena ayam tidak
mengeluarkan energi untuk mengatasi suhu lingkungan yang tidak normal. Untuk
mengatasi pengaruh iklim yang tidak dapat dikontrol, maka salah satu usaha yang
dapat dilakukan adalah dengan melakukan manipulasi iklim mikro melalui rasionalisasi
perkandangan. Menurut Austic dan Nesheim (1990), dalam pembuatannya kandang
harus ditinjau dari tiga sudut pandang sebagai problem biologi, sebagai problem
teknik dan, sebagai problem ekonomi.
Selain manipulasi iklim mikro, dapat juga dilakukan
perbaikan manajemen pada saat lonjakan suhu tinggi. Penyesuaian dan
perbaikan manajemen pada suhu lingkungan tinggi juga perlu mendapat perhatian,
terutama menyangkut program vaksinasi , debeaking, litter, pemungutan telur,
perbaikan kualitas air minum dengan selalu menyediakan air yang segar,
pembuangan kotoran agar kadar amoniak tidak naik dan penambahan Ca dan P
ekstra.
3.2 Saran
Setelah mengetahui kondisi iklim yang baik untuk ayam dan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas ternak ayam di Indonesia, seharusnya peternak mampu menerapkannya dalam usahanya dan bisa bersaing dengan peternak lain, baik dari luar maupun dalam negeri. Dengan usaha-usaha tersebut, tidak ada lagi alasan bagi peternak untuk tidak bisa menghasilkan ternak dengan kualitas dan produktivitas terbaik, terutama untuk ternak ayam.
DAFTAR PUSTAKA
Adhi, R.k.
2010. Lingkungan pertanian dan pemanasan global. Pros. Seminar Nasional
Revitalisasi Pembangunan Lingkungan Pertanian Menghadapi Global Warming.
11 Maret 2010 di Universita Lambung Mangkurat,
Banjarbaru.
As-syakur,
A.r., I.w Suarna, I.w Rusna Dan I.n Dibia. 2011. Pemetaan kesesuaian iklim
tanaman pakan serta kerentanannya terhadap perubahan iklim dengan sistem
informasi geografi (SIG) di Provinsi Bali. J. Pastura 1(1): 15 – 25.
Farell,
D.J . 1979. Pengaruh dari suhu terhadap kemampuan biologis dari unggas. Laporan Seminar Ilmu dan Industri Perunggasan 11 . Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.
Sinurat,
A.P . 1988 . Produktivitas unggas pada suhu lingkungan yang panas. Pros . Simposium I Meteorologi
Pertanian. Perhimpi, Bogor.
Wihandoyo,
H. Mulyadi Dan T. Yuwanto. 1981 . Studi Tentang Produktivitas Ayam yang Dipelihara Rakyat di Pedesaan Secara Tradisional.
Laporan Penelitian UGM,
Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar